MENATAH BUDAYA YANG HAMPIR MATI
Krisna Catur Pamungkas | FOTKOM401

    Wayang kulit merupakan salah satu budaya yang telah menjadi kebanggaan Indonesia dimata dunia. Tak khayal banyak orang dari bangsa asing yang datang ke Indonesia hanya demi melihat dan mempelajarinya. Wayang kulit pernah menjadi tontonan dan hiburan tradisional favorit masyarakat pada zamannya, sebelum kini modernisasi menggusur keeksisannya. Saat ini sudah jarang ditemukan dalam masyarakat yang sudi meregenerasikan budaya wayang kulit ini.

     Namun, di dusun Gendeng, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, Bantul masih terlihat beberapa masyarakat yang masih menekuni dunia pengerajinan wayang kulit. Seperti halnya rumah kerajinan Wayang Kulit Pak Suprih, yang hingga saat ini masih sedia menggulati dunia pembuatan wayang kulit ini. Pak Suprih dibantu dua pekerjanya yaitu Pak Jatek dan Pak Parjiono dalam hal penatahan (pemahatan) dan pengecatan wayang kulit.

     Butuh proses 2 minggu untuk menyelesaikan pembuatan satu wayang dari awal hingga hasil jadinya. Menggunakan kulit kerbau atau sapi yang direndam di sungai semalaman lalu dikeringkan. Lalu kulit dihaluskan hingga siap untuk melewati proses penatahan yang memakan waktu hingga 4-5 hari per 1 tokoh. Baru setelah itu proses pengecatan dimulai. Selama 4 hari Pak Parjiono menuangkan kelihaiannya dalam menggoreskan kuasnya hingga menjadi wayang kulit yang gagah dan berharga itu. Pak Suprih hanya mematok harga kisaran 400 ribu hingga 1,5 juta tergantung ukuran wayangnya.

Krisna_12R

Krisna_10R (3)

Krisna_10R (1)

Krisna_5R (1)

Krisna_5R (1)

Krisna_5R (2)

 

June 9, 2016

Leave a Reply