WARNA DAN MINORITAS
Adi Cahya Pangestu | FOTKOM401

    Ada pelangi di Kali Code, begitulah gambaran yang terbenak oleh masyarakat saat melihat keceriaan warna-warni di rumah warga pinggir kali ketika melintasi jembatan Gondolayu, Jogja. Merah, putih, kuning dan biru membuat rumah-rumah yang didesain oleh almarhum Romo YB Mangunwijaya ini tampak indah.Pada mulanya Kampung Code adalah pemukiman kumuh dan miskin di pinggiran Kali Code yang membelah tengah kota Yogyakarta. Kondisi masyarakat miskin dapat tergambarkan pada Kampung Code, yang terdiri dari pemulung, pengamen, pengemis, pelacur, dan lain-lain.

    Pola dan warna itu sebenarnya hanyalah baju. Pesan atau intisari yang hendak digapai dari kegiatan ini adalah kehidupan warga yang semakin ceria dan mandiri. Warga harus selalu penuh optimisme dan mampu berdikari di tempat sendiri adalah semangat yang hendak diraih. Usaha masyarakat bersama Romo Mangun, mendapat hasil berupa penghargaan internasional yaitu Aga Khan for Architecture pada tahun 1992.

     Bahasa estetika dari Kali Code ini adalah bahasa estetika rakyat jelata yang tradisional, berwarna-warni, sederhana tanpa pretensi berindah-indah. Mungkin agak banal, tapi apa adanya. Selain estetika visual, dalam proyek ini terpendam juga estetika kemanusiaan yang justru lebih indah. Yaitu bagaimana sesuatu yang dicap jelek, kumuh, tidak bernilai ternyata mampu bertransformasi menjadi sesuatu yang bernilai, bahkan memberi nilai tambah pada estetika perkotaan.

     Kampung Code telah menjadi sebuah miniatur peradaban berbasis arti penting local wisdom, yang diperlopori oleh seorang local jenius yang gigih. Hal ini dimungkinkan karena Romo Mangun tidak hanya mengubah desain arsitektur fisik perkampungan itu, akan tetapi dia juga mendorong terciptanya perubahan sosial (sosial engineering) dengan cara mensolusikan dan memberdayakan perekonomian mereka.

B

C

D

E2

A

G


June 9, 2016

Leave a Reply