KERAJINAN WAYANG KERTAS
Anggit Prakoso | FOTKOM401

     Wayang Kertas merupakan salah satu permainan tradisional khas yang dihasilkan di Kampung Dolanan, Dusun Pandes, Sewon, Bantul. Mbah “Madi Wiyono” salah seorang pembuat permainan Wayang Kertas di desa tersebut. Kini umur beliau sudah 85 tahun. Dahulu Mbah Madi sering setiap hari membuat Wayang Kertas dan permainan lainnya seperti Angkrek, Othok-Othok, Kitiran. Namun semakin beranjaknya usia, sudah tidak sesering dahulu membuatnya, tetapi masih tetap bisa membuat permainan tersebut hingga saat ini.

    Wayang Kertas adalah sebuah permainan yang dibentuk dari pola kertas, dimana keunikan tangannya dapat digerakkan. Hebatnya lagi, Wayang Kertas buatan dari dusun Pandes ini tidak digambar terlebih dahulu kemudian digunting. Namun, Mbah Madi memotongnya langsung dengan mudahnya. Pewarnaan dalam permainan ini juga masih menggunakan pewarna tradisional, semacam seperti pewarna pakaian yang sering kita sebut teres. Kemudian Mbah Madi melukiskannya di atas kertas tersebut. Setelah itu, hasil yang sudah jadi akan dijual disekitar pasar dan tempat-tempat yang ramai banyak anak kecil. Harga Wayang Kertas tersebut berkisaran 1.500 – 2.000 rupiah.

(12R) wayang kertas-01

(5R) wayang kertas-03

(5R) wayang kertas-06

(5R) wayang kertas-04

(10R) wayang kertas-05

(10R) wayang kertas-07

(5R) wayang kertas-02


SANG PALANG CILIK
Dimas Suryo Winandhar | FOTKOM401

      Ular merupakan hewan reptil yang memiliki keindahan tersendiri karena coraknya yang indah serta warna yang beraneka ragam. Beberapa spesies diantaranya memiliki bisa atau racun yang berbahaya. Racun tersebut dapat membunuh hewan atau bahkan manusia dalam hitungan menit. Sehingga masyarakat banyak yang takut dan memilih untuk pergi saat menemukan ular.

     Namun ditangan seorang Rizal Rahman, ular dapat menjadi teman baik bagi dirinya. Berbeda dengan segelintir orang yang takut bahkan phobia terhadap ular. Anak berusia 16 tahun ini sudah mengenal ular sejak umur 4 tahun hingga sekarang. Banyak ular yang pernah ia temui, mulai dari phyton, rattle, ular hijau, sampai king kobra yang sangat berbahaya sekalipun.

     Dalam foto ini, terlihat dengan cekatannya Rizal bermain dengan berbagai macam ular. Meskipun seringkali ia pernah digigit oleh ular, namun ia tidak pernah kapok untuk terus bermain dengan ular- ular tersebut.

12R ular1

5R ular4

5R ular

10R ular3

5R ular5

10R ular4


MENATAH BUDAYA YANG HAMPIR MATI
Krisna Catur Pamungkas | FOTKOM401

    Wayang kulit merupakan salah satu budaya yang telah menjadi kebanggaan Indonesia dimata dunia. Tak khayal banyak orang dari bangsa asing yang datang ke Indonesia hanya demi melihat dan mempelajarinya. Wayang kulit pernah menjadi tontonan dan hiburan tradisional favorit masyarakat pada zamannya, sebelum kini modernisasi menggusur keeksisannya. Saat ini sudah jarang ditemukan dalam masyarakat yang sudi meregenerasikan budaya wayang kulit ini.

     Namun, di dusun Gendeng, desa Bangunjiwo, kecamatan Kasihan, Bantul masih terlihat beberapa masyarakat yang masih menekuni dunia pengerajinan wayang kulit. Seperti halnya rumah kerajinan Wayang Kulit Pak Suprih, yang hingga saat ini masih sedia menggulati dunia pembuatan wayang kulit ini. Pak Suprih dibantu dua pekerjanya yaitu Pak Jatek dan Pak Parjiono dalam hal penatahan (pemahatan) dan pengecatan wayang kulit.

     Butuh proses 2 minggu untuk menyelesaikan pembuatan satu wayang dari awal hingga hasil jadinya. Menggunakan kulit kerbau atau sapi yang direndam di sungai semalaman lalu dikeringkan. Lalu kulit dihaluskan hingga siap untuk melewati proses penatahan yang memakan waktu hingga 4-5 hari per 1 tokoh. Baru setelah itu proses pengecatan dimulai. Selama 4 hari Pak Parjiono menuangkan kelihaiannya dalam menggoreskan kuasnya hingga menjadi wayang kulit yang gagah dan berharga itu. Pak Suprih hanya mematok harga kisaran 400 ribu hingga 1,5 juta tergantung ukuran wayangnya.

Krisna_12R

Krisna_10R (3)

Krisna_10R (1)

Krisna_5R (1)

Krisna_5R (1)

Krisna_5R (2)

 

ABDI DALEM CILIK
Yusnia WP | FOTKOM401

     Rizky Kuncoro Malik, seorang anak lelaki berusia 7 tahun dengan paras tampan yang  duduk dibangku kelas satu  SDN Glagah Yogyakarta.  Sekilas memang ia terlihat seperti bocah biasa yang bermain dan bersekolah. Namun, siapa sangka ia memiliki kehidupan yang berbeda dari anak-anak lainnya. Ya, Rizky adalah seorang abdi dalem. Abdi dalem notabene orang-orang yang telah lanjut usia, namun Rizky telah memberi warna berbeda pada Keraton. Rizky merupakan satu-satunya abdi dalem cilik.

     Sejak usia 15 bulan Rizky sudah dibawa Mbah Suyat ke Keraton. Mbah Suyat adalah kakek dari Rizky yang juga merupakan abdi dalem. Beliau sudah mengabdi  sejak lebih dari 40 tahun lalu. Rizky diasuh oleh kakek dan neneknya  yang  biasa panggil ‘Bapak’ dan ‘Mak e’ karena memang telah dianggap sebagai orang tuanya sendiri. Mereka tinggal didaerah Janturan, Kota Yogyakarta.  Pada usia 2 tahun, ia meminta sendiri kepada kakeknya untuk ikut membantu di Keraton. Rizky dan Mbah Suyat datang ke Keraton tiap hari Senin, Selasa Kliwon, Rabu, Kamis, dan Sabtu.

     Keunikan Rizky telah menjadi sorotan publik. Tak jarang para wisatawan Keraton baik domistik maupun mancanegara yang ingin berfoto dengannya. Bahkan berbagai media pun kerap meliput abdi dalem cilik tersebut. Mbah Suyat menyimpan banyak dokumen mengenai  cucunya itu. Saat ditanya, kelak ia ingin menjadi seorang dalang, penari Jawa, juga penabuh gamelan. Cita-citanya tersebut merupakan profesi yang sehari-hari ia lihat di Keraton.

5R rizki6

10R rizki4

5R rizki5

5R rizki8

5R rizki9

5R rizki3

5R rizki1

10R RIZKI

YOG-JAKARTA
Raynaldy Dachlan | FOTKOM401

 

                Jakarta dikenal sebagai dengan keangkuhan kotanya. Kemacetan, kisruh, polusi dan padat penduduk menjadi taruhannya. Tower-tower menjulang semakin banyak, gedung-gedung tinggi tak terbendung pembangunannya. Hal demikian mengakibatkan berkurangnya ruang terbuka hijau bagi masyarakat.

            Yogyakarta juga tak mau kalah dengan Jakarta dalam hal pembangunan. Yogyakarta justru semakin fokus pada pergolakan gedung dan pembenahan kota yang tiada habisnya. Disatu sisi perbaikan infrastruktur terus dikebut. Namun sebaliknya, perampasan lahan hijau oleh calon menara dan hotel-hotel jahat yang terbendung izinnya di meja.

            Para pendatang di kota pelajar ini silih berganti berdatangan. Hiruk-pikuk kendaraan berpolusi menambah masalah baru. Kemacetan serta udara segar semakin sulit dirasakan. Namun disisi lain, Jakarta dan Yogyakarta menyimpan keindahan kota dan malam yang megah.

Aldy_12R (1)

Aldy_10R (4)

Aldy_10R (2)

Aldy_10R (1)

Aldy_12R (2)

MACAPAT
Demilia Diasti P | FOTKOM401

     Macapat adalah seni suara yang memiliki kesamaan dengan menyanyi. Bedanya jika menyanyi tidak ada aturan tertentu, tetapi macapat memiliki aturan yang tidak boleh dilanggar dan syairnya menggunakan bahasaJawa. Macapat  mulanya dikarang oleh Para Wali untuk syiar agama Islam. Karena sebelum masuk agama Islam, Para Wali mengajak secara damai dengan menggunakan wayang, gamelan serta tembang macapat untuk masuk ke agama Islam. Dalam tembang tersebut terdapat nada (titilaras).

     Didalam macapat terdapat nasehat-nasehat dan nilai luhur yang perlu disebarluaskan dan diresapi kepada generasi muda. Bapak Projo selaku pengajar di sekolah macapat menulis dan membaca huruf Jawa meyakini bahwa ada saatnya seseorang tertarik menyukai macapat. Tembang macapat dapat menggambarkan kehidupan manusia dari lahir sampai mati atau bahkan sebelum lahir dan sesudah mati.

Emil_10R (1)

Emil_5R (1)

Emil_10R (2)

Emil_10R (3)

Emil_5R (3)

Emil_12R (1)


EVOLUSI MALIOBORO
Rio Adhitia Rakhman | FOTKOM401

     Yogyakarta atau biasa kita sebut dengan kota Jogja adalah salah satu kota wisata di Indonesia. Salah satu wisata terkenal di Jogja yakni Malioboro. Malioboro merupakan salah satu destinasi wisata di jogja karena disana adalah tempat beragam aneka pernak-pernik, batik, makanan, minuman khas jogja dijajakan. Karena keunikannya tersebut, kawasan Malioboro selalu ramai dikunjungi wisatawan sehingga Malioboro semakin sumuk ditambah lagi dengan parkiran tepi jalan Maliboro yang terlalu padat.

    Namun pada tanggal 4 April 2016, parkiran sepeda motor di Jalan Malioboro mulai direlokasi ketempat parkir Abu Bakar Ali. Sehingga wilayah tepi Jalan Malioboro kini lenggang dari parkir sepeda motor. Di sejumlah titik ruas jalan, dipasang pagar besi merah untuk penanda bahwa sepeda motor tidak boleh masuk ke lahan yang sebelumnya digunakan untuk parkir. Para aparat yang berwenang mengarahkan pengendara yang hendak parkir di kawasan tersebut. Agar menuju gedung parker Jalan Abu Bakar Ali. Lahan parkir yang lenggang kini digunakan oleh sejumlah pejalan kaki.

     Saat pertama kali ada rencana relokasi, banyak para juru parkir yang berdemonstrasi menolak relokasi ini. Namun setelah berdiskusi, terdapat kesepakatan antara juru parker dan pemerintahan. Para juru parker Malioboro diizinkan mengatur parkir di gedung Abu bakar Ali. Sebagai ganti pendapatan, mereka diberi uang kompensasi Rp70.000 perorang perhari. Pembagian uang kompensasi dilakukan di Kantor UPT Malioboro, Jalan Malioboro. Setiap juru parker menerima Rp70.000.

Adit_10R (2)

Adit_5R (3)

Adit_5R (5)

Adit_5R (4)

Adit_10R (1)

Adit_5R (2)

Adit_12R

Adit_5R (1)


RAMAI
Meby Tri Y | FOTKOM401

     Pasar Beringharjo menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan dan masyarakat lokal, khususnya cinderamata maupun kebutuhan sehari-hari. Pasar tradisional ini merupakan destinasi utama bagi yang ingin berbelanja dengan harga terjangkau. Tawar-menawar yang kerap terjadi di Pasar Beringharjo menjadi daya tarik tersendiri bagi pembeli.

     Kaum hawa yang ingin tampil modis tetapi tetap pas pada dompet banyak mengunjungi Pasar Beringharjo apalagi pakaian untuk acara resmi yang lebih sering menggunakan pakaian batik. Sensasi yang terasa ketika berbelanja di Pasar Beringharjo menjadi khas tersendiri ketika terbiasa dengan pasar modern. Prinsip “rejekitaktertukar” menjadi prinsip dasar para pedagang.

(10R) pasar3

(5R) pasar9

(5R) pasar8

(5R) pasar2

(5R) pasar1

(5R) pasar5

(5R) pasar7

(12R) pasar4 (1)


ZIANTURI GUITAR EQUIPMENT
Yosa Shinta Dewi | FOTKOM401

 

     Sri Hadi Waluyo, seorang Luthier kenamaan Yogyakarta yang sudah dikenal luas oleh musisi lokal maupun nasional. Beliau memulai menjadi Luthier sejak tahun 1993. Bertempat tinggal di  Jl. Tasura 8, Maguwoharjo, Ring Road Utara, Yogyakarta. Pria paruh baya yang kerap disapa Pak Hadi melakukan pekerjaan yang juga sekaligus hobby. Dalam melakukan pekerjaannya,ia dibantu oleh Mas Mufid, mereka saling bertukar pendapat mengenai “pasien” yang sedang mereka tangani.

     Jasa yang ditawarkan oleh pak Hadi sebagai pemilik Zianturi Guitar Equipment diantaranya adalahpembuatan gitar, servis pickup, modifikasi, setting bridge, dan jasa lainnya. Selain itu, beliau juga menerima jasa pemesanan alat-alat musik lainnya seperti contra bass, bass elektrik, alat musik perkusi, biola, dan lain-lain. Alat-alat musik tersebut tidak hanya pesanan dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Zianturi, alat musik yang mendapat pesanan dari luar negeri seperti Jerman, USA, Australia, Filiphina dan masih banyak negara lain. Untuk biaya setting, modifikasi, dan servis, beliau tidak mematok harga tertentu, bahkan terkadang Pak Hadi menggratiskan pengunjung yang hanya ingin setting ulang gitar.

     Tahun 1987 Pak Hadi mengikuti workshop kilat yang diadakan oleh Gibson untuk konstruksi gitar dan juga pernah belajar desain gitar dari ESP Jepang. Tak hanya sampai disitu, beliau juga memperdalam ilmu luthiernya dengan banyak membaca-baca buku. Sampai akhirnya beliau menemukan kriteria yang pas untuk sebuah gitar yang baik. Hasil belajar selama ini kemudian diterapkan olehnya. Dan ternyata hasilnya memuaskan dan disukai teman-teman musisinya yang mempercayakan perbaikan gitar kepadanya.

    Banyak sekali musisi-musisi Yogyakarta baik dalam bertaraf lokal maupun nasional yang sudah pernah merasakan polesan Pak Hadi. Musisi nasional yang telah menjadi pelanggan diantaranya yaitu Jikustik Band, Sheilla On 7 dan masih banyak band lokal maupun nasional yang menjadi pelanggan setia Pak Hadi. Erros gitaris Sheilla On 7 terbilang sangat sering mendatangi Zianturi Guitar Equipment untuk memesan gitar. Walaupun saat ini sudah jarang datang langsung, Erros tetap menyuruh asistennya untuk mengunjungi Pak Hadi untuk memesankan gitar yang mendukung performancenya saat sedang on stage dengan Sheilla On 7. Dalam suatu kesempatan Pak Hadi pernah mengiringi beberapa musisi ternama Indonesia, seperti Vina Panduwinata. Mayoritas dari pemesan alat musik khususnya gitar di Zianturi Guitar Equipment sangat puas dengan hasil kerjanya. Hal itu disebabkan karenasemua bahan kayu di Zianturi adalah bahan qualified standard international dan beliauselalu fokus terhadap satu persatu pesanan alat musik yang akan beliau kerjakan sehingga hasilnya maksimal.

(12R) ZIANTURI-10

(10R) ZIANTURI-05

(5R) ZIANTURI-09

(10R) ZIANTURI-01

(10R) ZIANTURI-04

(5R) ZIANTURI-08

(5R) ZIANTURI-06

(5R) ZIANTURI-02

(5R) ZIANTURI-07


MERAJUT ASA DARI GENDONG BEBAN
Setiya Hertanti Oktayustia | FOTKOM401

     Bu Wagiyem (70) dan Bu Siyem (63). Kedua wanita tersebut berasal dari Kulon Progo. Profesi Mereka sebagai buruh gendong di pasar-pasar daerah Kulon Progo. Kedua wanita tersebut sungguh hebat, bekerja dari pukul 05.00 hingga 16.00 WIB. Pekerjaan yang dilakoni tak sebanding dengan imbalan yang didapat. Kerasnya hidup membuat mereka tetap ikhlas dan tulus dalam melakoni profesinya sebagai buruh angkut. Hal inilah yang patut diapresiasikan.

     Sebagai generasi muda penerus bangsa, sepatutnya kita harus melakukan lebih dari apa yang mereka jalani. Demi sepeser uang dan sesuap nasi, beliau rela berjalan berkilo-kilo. Karena ini memang tuntutan hidup. Dengan semangat pantang menyerah dan tanpa pamrih.

(10R) buruh gendong-06

(5R) buruh gendong-08

(5R) buruh gendong-09

(5R) buruh gendong-05

(5R) buruh gendong-04

(5R) buruh gendong-03