MERAJUT ASA DARI GENDONG BEBAN
Setiya Hertanti Oktayustia | FOTKOM401

     Bu Wagiyem (70) dan Bu Siyem (63). Kedua wanita tersebut berasal dari Kulon Progo. Profesi Mereka sebagai buruh gendong di pasar-pasar daerah Kulon Progo. Kedua wanita tersebut sungguh hebat, bekerja dari pukul 05.00 hingga 16.00 WIB. Pekerjaan yang dilakoni tak sebanding dengan imbalan yang didapat. Kerasnya hidup membuat mereka tetap ikhlas dan tulus dalam melakoni profesinya sebagai buruh angkut. Hal inilah yang patut diapresiasikan.

     Sebagai generasi muda penerus bangsa, sepatutnya kita harus melakukan lebih dari apa yang mereka jalani. Demi sepeser uang dan sesuap nasi, beliau rela berjalan berkilo-kilo. Karena ini memang tuntutan hidup. Dengan semangat pantang menyerah dan tanpa pamrih.

(10R) buruh gendong-06

(5R) buruh gendong-08

(5R) buruh gendong-09

(5R) buruh gendong-05

(5R) buruh gendong-04

(5R) buruh gendong-03



TITIK TEMU MANUSIA DAN KOPI
Christine Anastasya Siahaan | FOTKOM401

     Kopi atau ‘ngopi’ tidak selalu bermakna minum kopi. Sebagian orang mengartikannya sebagai suatu kegiatan seperti ngobrol, nongkrong ataupun berbincang-bincang kecil mengenai kehidupan. Budaya ‘ngopi’ hanya ada di Indonesia dan sudah lama mendarah daging dalam masyarakatnya sendiri. ‘Ngopi’ merupakan pelarian manusia ditengah kesibukan dunia dan kepenatan kerja. Ngopi adalah kata kerja dimana manusia hidup di dalamnya dan mampu meleburkan perbedaan ras, agama, suku, profesi serta kedudukan.

     Warna pekat kopi yang sudah dihancurkan dan diseduh menimbulkan aroma khas yang memikat para pecintanya. Keahlian barista dalam atraksinya juga membuat para penikmat merasa bahagia bahkan sebelum mencicipi kopinya. Baristaa dalah ‘jiwa’ dan ‘wajah’ bagi sebuah coffee shop. Tanpa racikan dari tangan-tangan mereka, kopi tidak akan menjadi candu bagi para pecintanya.

     Para pecinta kopi dapat menemukan ketenangan dengan hanya mencium aromanya. Tak heran jika ide, inspirasi, serta gagasan kerap hadir disela-sela kegiatan mereka. Kini coffee shop tidak hanya menjadi tempat untuk sekedar minum kopi namun juga sebagai kantor dan bahkan menjadi rumah kedua bagi pecintanya.

We believe that coffee is more than just a drink: It’s a culture, an economy, an art, a science and a passion. — The National Coffee Association of USA

5R barista7

5R barista2

5R barista

10R barista1

10R barista3

5R barista5


SEMANGAT INI TIDAK AKAN PERNAH TUA
Rudy Prasetyo | FOTKOM401

     Narto Wiyono (91), seorang tukang cukur tradisional yang mengabdi lebih dari 40 tahun sebagai tukang cukur. Di masa yang serba modern dan canggih ini, Pak Narto masih menggunakan peralatan yang serba manual dan jauh dari kesan modern. Salah satu warga dari desa Genitem Kelurahan Sidoagung, Godean ini biasa mangkal di trotoar daerah alun-alun, tepatnya disebelah Barat lapangan yang buka dari pukul 08.00 hingga 16.00.

     Jarak dari rumah ke tempat mangkal pun terbilang jauh, lebih dari 10 km. Setiap hari Pak Narto diantar-jemput menggunakan ojek langganannya. Pelanggan yang datang pun tidak menentu. Mayoritas pelanggan berusia diatas 50 tahun. Pak Narto dengan ikhlas tidak menentukan tarif untuk jasanya. Ketika jam kerja, beliau hanya minum dan merokok tanpa makan. Pak Narto Wiyono mengaku senang dengan profesi yang dijalaninya hingga saat ini, beliau merasa berguna untuk orang lain di umurnya yang terbilang sudah tidak muda lagi.

10R cukur3

5R cukur4

5R CUKUR6

10R cukur1

5R CUKUR8

5R CUKUR5

GETHEK TRADISIONAL DI TENGAH MODERNITAS
Helmi Iqbal Mahardika | FOTKOM401

       Gethek merupakan sebuah alat transportasi air yang biasanya digunakan untuk mengangkut barang maupun manusia untuk menyebrangi sungai. Sehingga memudahkan masyarakat untuk bermobilitas dalam melakukan aktivitasnya. Di Kali Progo terdapat sebuah gethek yang menghubungkan kecamatan Lendah Kulon Progo dengan kecamatan Pajangan Bantul. Gethek yang beroperasi mulai dari pukul 05.00 sampai 18.00 ini di kendalikan oleh dua orang. Satu orang menjaga agar gethek tidak terlepas dari kaitan, dan satu orang lagi membantu penumpang meletakkan barangnya ke gethek tersebut. Tarif yang ditentukan Rp.2.000,00 untuk pulang pergi. Dan biasanya penumpang membayar sepulang bekerja saat sore hari. Dalam sehari para pengemudi gethek memperoleh Rp.450.000,00 sampai Rp.500.000,00. Namun uang tersebut tidak seratus persen masuk kekantong para pengemudi, tetapi juga dibagi dua dengan pemilik gethek.

       Gethek di Kali Progo hanya beroperasi saat musim hujan ketika air sungai naik berkisar tiga sampai lima meter. Saat musim kemarau jalur yang digunakan gethek diganti menjadi jembatan sesek yang terbuat dari bambu, jembatan tersebut dibangun secara gotong royong oleh masyarakat. Jembatan sesek tersebut pernah menjadi destinasi yang terkenal beberapa saat lalu.

Iqbal_5R (2)

Iqbal_12R

Iqbal_10R (3)

Iqbal_5R (3)

Iqbal_10R (1)

Iqbal_5R (1)

Iqbal_10R (2)


KILAUAN PERAK DARI KOTA GEDE
Dilma Rakhma Setyarini | FOTKOM401

     Wilayah Kotagede merupakan sentral pembuatan souvenir berbahan perak yang ada di Yogyakarta. Meskipun tidak terdapat pertambangan perak di daerah tersebut, Kotagede begitu terkenal dengan kerajinan peraknya di kalangan pelancong local maupun mancanegara. Hal yang membuat kerajinan ini istimewa adalah proses pembuatannya yang masih tradisional. Setiap bagiannya dibuat secara hati-hati dan teliti. Oleh sebab itu, kerajinan perak Kotagede sangat diapresiasi dan selalu punya tempat di hati para penggemarnya.

     Tahap pembuatan perak dimulai dari peleburan bijih perak dengan suhu tinggi. Proses ini akan menghasilkan perak lembaran dan perak tali. Biasanya perak lembaran digunakan untuk bahan utama perlengkapan makan, miniatur, serta perhiasan. Untuk yang berbentuk perak tali akan dibuat perhiasan, miniatur, dan motif atau dekorasi kerajinan perak. Setelah itu, bahan-bahan tadi siap untuk diukir. Pada tahap ini, sangat dibutuhkan ketelitian yang tinggi. Usai pengukiran, bahan jadi tersebut diamplas, dibersihkan, dan dikeringkan. Dari rangkaian proses pembuatan perak yang tidak singkat tersebut, terciptalah karya yang rumit nan indah. Karya yang menggambarkan indahnya hasil dari kerja keras.

7

6

4

5

3

1

2

SATE KLATAK PAK PONG
Cendikia Hanif | FOTKOM401

Sate Klathak adalah sate kambing khas Yogyakarta yang merupakan ikon baru selain gudeg.Sate Klathak diolah dengan cara unik. Daging kambing yang telah dipotong-potong kecil ditusuk menggunakan jeruji besi sepeda, bukan batang bambu seperti sate pada umumnya. Penggunaan jeruji besi sepeda ini bukan tanpa alasan. Besi merupakan penghantar panas yang baik, sehingga ketika dibakar daging kambing bisa matang dengan sempurna sampai bagian dalamnya.

Bumbu yang digunakan sangat minimalis. Daging kambing hanya dibumbui garam dan merica. Ketika daging berada di atas bara api, akan terdengar letupan-letupan kecil, “klatak, klatak”.  Konon dari sinilah asal mula nama Sate Klathak. Diambil dari suara letupan khas yang timbul ketika sate dibakar.

Salah satu tempat terbaik untuk menikmati kuliner khas Yogyakarta ini adalah Warung Sate Klathak Pak Pong yang berlokasi di Kabupaten Bantul, selatan Kota Yogyakarta. Kurang lebih 25 menit perjalanan dari pusat Kota Yogyakarta. Warungnya cukup luas dan nyaman, dengan tempat parkir memadai. Di depan warung terdapat dapur terbuka dimana semua kegiatan memasak berlangsung. Ini bisa menjadi pemandangan menarik bagi pengunjung sembari menanti pesanan datang.

Diki_12R

Diki_10R (1)

Diki_10R (2)

Diki_5R (1)

Diki_5R (2)

MARI NARI
Nur Afitria Cika Handayani | FOTKOM401

     Sanggar Seni Kinanthi Sekar merupakan tempat bertukar pengetahuan bersama tentang dunia seni, juga menjadi sarana untuk silaturahmi kesenian. Sanggar seni yang berlokasi di Rumah Kelas Pagi Yogya, Jl. Bridgend Katamso, Prawirodirjan GM II/1226 Gondomanan, Yogyakarta ini dikembangkan oleh Kinanthi Sekar Rahina (27) yang kini telah memiliki banyak peserta didik. Di sanggar seni ini ada beberapa macam kelas tari seperti tari kreasi, tari nusantara, dan tari klasik jogjakarta putri maupun putra. Latihan tari tersebut dilaksanakan pada setiap hari Senin hingga Jumat dengan jenis tari berbeda di tiap harinya. Di sanggar ini lebih difokuskan untuk belajar tari tradisional, khususnya tari khas Yogyakarta.

     Saat ini sudah ada beberapa pelatih di tiap jenis kelas tari. Seperti, Pakdhe Joko yang melatih pada kelas tari kreasi dan tari nusantara. Peserta yang mengikuti latihan tari tidak semua merupakan masyarakat asli Jogja, namun ada juga yang dari luar kota. Latihan tari diikuti semua umur, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Di Sanggar Seni Kinanthi Sekar ini peserta juga akan memiliki pengalaman yang menyenangkan saat berkesenian terutama menari.

tari1

tari4

tari2

tari11

tari5

tari10

tari7

ANGKUTAN UMUM PRAMBANAN-JOMBOR
Bella Lumencia | FOTKOM401

      Angkutan umum merupakan salah satu alat transportasi yang ada disetiap kota maupun daerah. Dengan biaya yang murah, angkutan kota banyak diminati masyarakat. Seperti halnya di Yogyakarta, sebagai kota wisata kehadiran angkutan umum di kota ini menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi pemerintah daerah untuk menunjang berbagai kegiatan dan mobilitas masyarakat. Namun, angkutan umum jenis kol ini hanya sedikit yang beroperasi.

    Umumnya yang rutin menggunakan jasa angkut ini adalah orang tua yang ingin pergi ke pasar. Mereka mengatakan lebih senang menggunakan angkutan umum jenis kol,  karena dapat menampung barang bawaan dan menghemat waktu. Kalaupun menggunakan jasa bus Trans Jogja, penumpang harus mengikuti rute yang sudah ditentukan dan menghabiskan banyak waktu. Berbeda dengan bus Trans Jogja, angkutan umum jenis kol ini dapat menurunkan penumpang tanpa harus di halte bus. Tarif yang dikenakan lumayan murah, yaitu 5000 rupiah tergantung dengan dekat jauhnya jarak.

     Jenis angkutan umum jenis kol ini beroperasi pukul 06.30 hingga pukul 16.00. Rute yang dilalui mulai dari Prambanan, Jalan Laksada Adi Sucipto hingga pemberhentian terakhir di Terminal Jombor. Dengan rute tersebut, angkutan umum ini melewati tempat-tempat umum yang biasa dituju oleh masyarakat Yogyakarta. Seperti Mirota, Ambarukmo Plaza, Tugu Yogyakarta, UGM, dan juga beberapa pasar tradisional  yang ada di Kota Istimewa ini.

Bella_12R

Bella_10R (2)

Bella_10R (3)

Bella_5R (1)

Bella_10R (1)


 

BERKARYA DENGAN DISABILITAS

BERKARYA DENGAN DISABILITAS
Rizka Amira Habibah | FOTKOM401

 

    Mandiri Craft merupakan salah satu industry manufaktur mainan yang berdiri pada tahun 2003 yang diprakarsai oleh 25 orang penyandang cacat. Kerajinan yang dikelola dan dijalankan oleh kaum difabel ini dapat dijumpai di Jalan Parangtritis Km 7 Cabean Sewon, Bantul, Yogyakarta.

    Produk utama yang dihasilkan berupa alat permainan edukatif berkualitas ekspor. Selain itu, Mandiri Craft juga memproduksi furniture, meja kursi sekolah, dan menerima pesanan sesuai desain keinginan dari pemesan. Produk tersebut menggunakan bahan kayu mahoni dan cat non-taxic sehingga aman untuk kesehatan anak-anak.

    Hal yang membuat industri manufaktur ini beda, yaitu latar belakang fisik para pekerjanya. Kebanyakan dari mereka menderita cacat fisik sejak mereka lahir. Tetapi ada beberapa dari mereka yang disebabkan oleh kecelakaan dan bencana gempa bumi 5 tahun silam.

    Keterbatasan yang mereka miliki tidak akan mengubah semangat untuk meraih mimpi mereka yang lebih terbatas dari kita sebagai orang normal.

mandiri craft2

mandiri craft1

mandiri craft6

mandiri craft7

mandiri craft8

mandiri craft9

mandiri craft3



PENGARUNGAN ELO

PENGARUNGAN ELO

Muhammad Ageng Prabowo | FOTKOM 401

      Kali Elo adalah salah satu anak sungai Progo yang membelah wilayah Magelang, Jawa Tengah. Dahulu, kali Elo hanyalah sebuah sungai yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk melakukan berbagai aktifitas seperti mandi, bermain, memancing, dan segala aktifitas lainnya. Akan tetapi seiring perkembangan zaman, munculah satu kegiatan baru di kali Elo. Kegiatan itu bernama Rafting atau yang biasa dikenal dengan arung jeram. Arung jeram adalah aktifitas pengarungan bagian alur sungai yang berjeram atau berbatu dengan menggunakan perahu atau alat sejenisnya.

      Kegiatan arung jeram di kali Elo dimulai sejak tahun 1995. Salah satu operator yang pertama berdiri saat itu ialah Citra Elo. Citra Elo merupakan operator arung jeram yang memiliki basecamp dekat dengan candi Mendut Kab. Magelang. Kegiatan ini dilakukan setiap hari karena banyaknya pengunjung yang penasaran ingin merasakan sensasi arung jeram. Untuk menjaga keselamatan dan kenyamanan para pengunjung Citra Elo telah menyediakan beberapa Guide yang telah terlatih. Para Guide sebagian besar berasal dari warga sekitaran basecamp. Ini bertujuan agar kegiatan ini juga akan berdampak dan membantu perekonomian masyarakat sekitar.

     Salah satu guide di Citra Elo adalah bapak Ghufron, beliau telah bekerja sejak Citra Elo pertama kali berdiri. Sehingga beliau telah bekerja selama lebih dari 20 tahun dan tentunya memiliki pengalaman yang lebih. Menurut beliau, sebagai guide ia selalu mengutamakan keselamatan dan kenyamanan. Karena dengan kenyamanan yang di dapatkan penumpang beliau menginginkan tertanam kesan yang baik di hati para pengunjung sehingga suatu saat dapat berkunjung kembali. Selama menjadi guide beliau mengatakan bahwa telah melihat berbagai karakter pengunjungnya. Mulai dari yang penakut, pemberani, hingga yang merasa dirinya lebih tau dibandingkan para guide. Padahal menurut penuturan beliau, segala hal yang terjadi selama pengarungan merupakan kendali penuh para guide. Sehingga penumpang harus melakukan apa yang para guide instruksikan. Dan terakhir beliau berkata, walaupun kita melintasi sungai yang sama, di cuaca yang sama, tetapi arus sungai akan berbeda.

Ageng_5R (3)

Ageng_5R (1)

Ageng_10R (2)

Ageng_5R (4)

Ageng_5R (2)

Ageng_10R (1)

Ageng_12R